expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Berbagi Informasi Sharing,Curhat(FIK,Universitas Negeri Malang IK 2010 )

Search / Pencarian

Memuat...

Anda pengunjung blog nomer

jadi yg pertama diantara teman temanmu

Rabu, 09 November 2011

mekanisme Malaria

MEKANISME PENULARAN MALARIA
Manusia tertulari malaria jika kemasukan sporozoit Plasmodium (P. falciparum, p. vivax, P. malariae, atau P. ovale) lewat gigitan nyamuk Anophelesbetina yang infeksius.
Nyamuk vektor terkena infeksi parasit malaria stadium gametosit yang berhasil mengalami gametogoniu, singami, dan sporogoni.
Penularan malaria ke manusia bisa bermacam-macam :
  1. Alami a secara inokulatif, sporozoit masuk tubuh manusia lewat gigitan nyamuk vektor.
  2. Aksidental a lewat transfusi darah, atau jarum suntik yang terkontaminasi darah berparasit malaria yang hidup a trofozoit langsung ke darah.
  3. Secara sengaja a dengan suntikan intravena atau transfusi untuk tujuan terapi layuh saraf (paresis).




    MEKANISME EPIDEMIOLOGI MALARIA
    Secara parasitologis, dalam daur hidup Plasmodium, manusia diketahui sebagai inang antara karena Plasmodium, parasit malaria dalam tubuh manusia masih dalam stadium asekmsual, maksimal sebagai mikrogametosit (jantan muda) dan makrogametosit (betina muda) yang belum mampu melakukan singami.
    Plasmodium, parasit muda, pada manusia di Indonesia adalah : P. falciparumP. vivax, P. malariae, dan P. ovale. Parasit malaria dalam tubuh manusia berhabitat utama dalam sel darah merah (eritrosit) yang memakan hemoglobin.
    Pada P. vivax ada bentuk hepatik yaitu dalam sel-sel hati yang memungkinkan terjadi relaps atau kambuh.
    Vektor malaria adalah nyamuk Anopheles betina, yang merupakan inang definitif. Dalam lambung nyamuk mikrogametosit dan makrogametositPlasmodium, masing-masing telah menjadi mikrogamet dan makrogamet yang kemudian kawin (singami) a zigot a ookinet a oosista (proses sprogoni) dalam dinding lambung nyak a pecah a keluar puluhan ribu—ratusan ribu sporozoit yang akan menuju kelenjar liur nyamuk inangnya.
    Keberadaan, kelimpahan, umur dan mungkin perilaku vektor sangat dipengaruhi oleh lingkungan tanbiotik (fisik, kimia, hidrologis, klimatologis), biotik (tumbuhan, biota predator), dan kondisi sosial ekonomi penduduk di daerah endemik malaria. Spesies nyamuk yang berbeda segi genetiknya berbeda daya dukungnya terhadap kelangsungan hidup parasit malaria.
    Faktor lingkungan suhu udara geografis (ketinggian dari permukaan laut, musim) bisa berpengaruh pada kemampuan hidup parasit dalam nyamuk vektor. Plasmodium tidak bisa hidup dan berkembang pada suhu <15oC. Kelembaban udara 60 – 80% optimal untuk hidup nyamuk dengan umur panjang.
    Jika nyamuk vektor semakin padat (misalnya hitungan jumlah nyamuk vektor rata-rata yang menggigit orang per jam), semakin antropofilik (lebih suka menggigit dan menghisap darah manusia), semakin panjang umurnya (> 2 minggu), dan semakin rentan terhadap infeksi dengan parasit malaria setempat, maka semakin besar potensinya terjadi KLB malaria, mungkin pada musim tertentu.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini